Ekspektasi Work From Home, Realitanya Far Away From Home

EKSPEKTASI WORK FROM HOME, REALITANYA FAR AWAY FROM HOME

Oleh: Syfa Nuril Auliya
(Pemenang juara 6 dalam ajang lomba kepenulisan Imkey tahun 2020 dengan tema Berperilaku Cerdas di Tengah Pandemi)

Virus Covid-19 sekarang ini menjadi hal yang tak ada habisnya untuk diperbincangkan. Bagaimanan tidak, mulai dari kebijakan pemerintah dalam mengatasi, pencegahan yang dilakukan masyarakat, efek yang menyentuh segala aspek kehidupan manusia diseluruh penjuru dunia sampai-sampai timbul isu konspirasi yang menjadi bumbu-bumbu sedap yang mengiringi pemberitaan di sosial media.  Salah satu hal yang sangat melekat dan kita rasakan adalah Work From Home. Ya, semuanya serba dilakukan dari rumah. Tak hanya bekerja, tapi juga sekolah, perkuliahan, ibadah dll. Keterpaksaan karena kondisi ini kurang lebih sudah berlangsung selama 2 bulan.

Hal ini membuat sebagian besar orang semakin jenuh karena tak bisa beraktifitas normal seperti biasanya. Bahkan rangkaian list planning yang sudah diangan dan diimpikan jauh-jauh hari menjadi resolusi tahun 2020 ini seketika luruh bersama datangnya virus yang menggemaskan ini. Namun, hal ini tidak berlaku bagi kaum introvert yang sangat sangat enjoy dengan keadaan seperti ini. Segala aktivitas yang berpindah tempat dengan dilakukan hanya dirumah tak melulu membuat pening kepala kok, kalau boleh sedikit mengutip dalam buku "Filosofi Teras" karya Henry Manampiring, kita memandang segala sesuatu dari segi postifnya. Yups benar sekali, seharusnya kita sebagai manusia bisa menyukuri akan kejadian ini dengan memanfaatkan waktu untuk enyah dari segala hiruk pikuk kota perantauan untuk mempererat hubungan diantara keluarga yang ada dirumah.

Eitss, tapi apakah benar yang dirasakan seperti itu. Sepertinya itu tidak terjadi padaku dan keluargaku atau mungkin keluargamu dan keluarga yang lainnya. Semakin mudahnya akses semua orang untuk memiliki gawailah yang menjadi dalangnya. Benar sekali jika ada pepatah "mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat". Bagi saya yang masih menempuh perkuliahan bertumpuknya penugasan dan pemadatan menjelang UAS yang dilakukan oleh dosen menyebabkan saya tak henti menghadap layar handphone dan laptop secara bergantian mulai dari bangun pagi sampai menjelang maghrib, selepas tarawih dilanjut mengurus beberapa amanah organisasi sampai tidur dan kurang lebih begitupula keesokan harinya.

Tak jauh berbeda dengan adik yang pelaksanaan ujian dan pembelajaran dipercepat, bahkan sekarang sudah usai dan membuat waktu luangnya banyak sekali, justru menjadi sasaran empuk untuk semakin meningkatkan skillnya. Yups, skill dalam bermain game. Bersyukurlah masa kecil saya masih bisa bermain bolang-bolangan, main dikali, dan aktifitas menyenangkan diluar ruangan lainnya. Beda sekali dengan anak sekarang kalo nyamperin temennya, misal "Yu, Bayu Mabar yukk!". Dan begitupula terjadi pada ibu selepas semua urusan kerjaan dan rumah tangga usai dilanjut scroll sosial media miliknya. Bapak  hanya bagian ngomel sambil nggerutu "Dasar generasi hp!!".

Tahun lalu semasa merasakan tahun pertama diperkuliahan dan diperantauan, ketika itu kangen mulu sama yang namanya rumah. Namun, ketika waktu membuat keadaan apa yang pernah saya inginkan justru berbeda rasanya tak seperti apa yang ada dibayangan saya. Mungkin yang salah adalah saya yang kurang menyadarkan dan tidak take action untuk itu. Kuncinya adalah segala sesuatu gabakal sempet kalo ga disempetin, jadi seriweh apapun sempatkan misal dengan sedikit mengobrol bercanda sambil menonton tv. Selain itu, coba deh kebiasaan baru yang mungkin bisa jadi opsi refreshing yang dilakukan dirumah aja yang sekaligus bisa mengurangi intensitas kejenuhan karena teralalu banyak interaksi dengan gawai. Contohnya bisa dengan berlatih memasak dengan mencoba berbagai resep masakan yang baru, olahraga bersama bareng keluarga, atau belajar bercocok tanam sederhana di rumah.

Kemudian, hal yang terbayang adalah pasca WFH & masa karantina ini berakhir pasti segalanya udah berubah dari berbagai aspek kehidupannya dan manusia juga keluar dengan keadaan yang variatif. Ada yang selepas ini jadi hafalan al-qur'an atau hadisnya nambah, ada yang produktif bikin karya tulisan, ada yang menamatkan sekian judul buku, ada yang sibuk buat berkegiatan sosial ditengah pandemi entah via online atau terjun langsung. Begitupula juga ada yang sibuk rebahan, sibuk sambat masalah tugas, sibuk membaca berita covid-19, menamatkan sekian serial drama, menghabiskan waktu dengan bermain game online. Semua itu tidak ada yang salah, semua mendapat jatah yang sama, jeda waktu luang akan tetapi hasil yang mereka dapatkan berbeda, itu semua berangkat dari pilihan pribadi masing-masing. Jadi, manfaatkan momentum emas ini untuk menentukan kebiasaan baru yang sekiranya menambah dan mengasah skill potensimu yang terpendam karena kesibukanmu sebelum adanya WFH.