Merdeka Belajar ditengah Pandemik
Tahun 2020 merupakan tahun yang menuntut kita untuk ekstra bersikap dewasa dalam menyikapi setiap permasalahan. Permasalahan yang menyebabkan dunia resah, yaitu virus Corona atau Covid-19 yang membuat semua orang ketar-ketir memikirkan nasibnya kedepan. Pasalnya banyak yang kehilangan pekerjaan akibat pandemik virus Coronaini.Terlebihrakyatbawahyangbekerjasebagaipedagangkelilingataupedagang kaki lima. Mereka harus pintar-pintar membuat strategi agar bisa mendapatkan sesuap nasi untuk makan hari ini. Bahkan karyawan perusahaan swasta pun, banyak yang di rumahkan karena perusahaan tidak bisa meng-ekspor hasil produksi dan mengakibatkan tidak bisa menggaji karyawannya. Akibatnya perekonomian negara menjadimelemah.
Selain di bidang ekonomi, yang terdampak karena adanya wabah ini adalah bidang pendidikan. Sekolah-sekolah ditutup diganti dengan pembelajaran daring di rumah. Kelas 12 SMA atau sederajat, yang lulus tahun ini menjalani Ujian Sekolah berbasis android dengan dikerjakan di rumah masing-masing. Tidak ada lagi Ujian Nasional yang menjadi momok menakutkan dikalangan pelajar Indonesia. UN resmi dihapus oleh pemerintah mulai tahun ini. Standar kelulusan pun diganti denganalternatif lain. Dengan Nilai Ujian Sekolah, nilai raport sesmester 1 sampai dengan 6, dan nilai sikap yang menjadi standarkelulusan.
Instansi Pendidikan harus bisa memberikan informasi yang efektif, agar kegiatan belajar mengajar berjalan lancar. Terlebih kelas 10 dan 11 yang masih harus mengejar materi yang belum disampaikan dengan melakukan pertemuan virtual menggunakan GoogleClassroom,Edmodo,WhatsApp,atauaplikasilainnya.Dalamhalini,pemerintah turut serta memberikan kosntribusinya dengan menyiarkan program pembelajaran melaluiTVRI.
Merdeka belajar yang digaungkan Bapak Menteri Pendidikan Nadiem Makarim, benar-benar kita lakukan saat ini. Dimana belajar tidak harus di dalam ruang kelas. Belajar bisa menggunakan media apa saja dan dimana saja. Materi pembelajaran pun harus disampaikan dengan menyenangkan, misalnya dengan membaca literasi sebelum pelajaran dimulai dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan apa
yang telah dibaca. Selain itu dengan memberikan kegiatan positif untuk mengkampanyekan hidup sehat dan gerakan pencegahan virus corona dengan menggunakan sosial media. Kegiatan pembelajaran seperti ini, selain bisa meningkatkan sportifitas juga bisa menjadi pembelajaran agar bisa bersosialisasi di khalayak umum.
Pembelajaran daring tidak luput dari penggunaan kuota. Yang menjadi sorotan utama adalah sinyal. Misalnya pada saat melakukan kuis menggunakan aplikasi tertentu. Ada beberapa siswa yang mengeluh jika di desa mereka susah sinyal. Sudah mengganti providerkartuyanglebihbaikpuntetaptidakbisamengakses.Akibatnyamerekamenjadi ketinggalan dan berdampak pada nilai. Hal tersebut mungkin bisa dimaklumi dan memberikan kelonggaran waktu untuk mengerjakankuis.
Selain masalah sinyal, boros kuota pun menjadi masalah. Pasalnya disituasi seperti ini kita harus bisa mengatur keuangan, harus bisa prihatin, dan sebisa mungkin menghematpengeluaran-pengeluaranyangtidakdiperlukan.Kitatidakbisamenyamakan dengan kegiatan yang biasa dilakukan sebelum pandemi. Mungkin saat masih di lingkungan sekolah kita bisa memanfaatkan wifi atau melakukan pembelajaran di laboratorium/ruang praktik. Tetapi sekarang? Berbeda sekali suasananya. Kita harus dewasa dalam menyikapi segala hal.
Tampaknya merdeka belajar yang dimaksud belum semerdeka yang diharapkan. Merdeka belajar akan mudah dilakukan saat semuanya tidak merasa terbebani atau bahkan tertekan, terlebih dari sisi ekonomi. Oleh karena itu, sebisa mungkin harus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan tidak memberatkan apabila dilakukan saat pandemik seperti ini. Semoga wabah ini cepat berakhir dan bisa menerapkan merdeka belajar yang sesungguhnya.