Ruang Penciptaan Aktivitas Virtual

RUANG PENCIPTAAN AKTIVITAS VIRTUAL

Oleh: M. Lukluk Atsmara Anjaina
(Pemenang juara 3 dalam ajang lomba kepenulisan Imkey tahun 2020 dengan tema Berperilaku Cerdas di Tengah Pandemi)


Tidak bisa kita pungkiri, bahwa pandemik Covid-19 telah membawa kita pada segala aktivitas baru yang berubah drastis. Ketidaksiapan masyarakat dalam menghadapi wabah yang datang secara tiba-tiba mau tidak mau harus diakui oleh kita bersama. Sebagian masyarakat kita terlihat gugup dalam mengalihkan segala aktivitas yang sudah biasa dilakukannya ke dalam sebuah jagat maya yang sedang dibangga- banggakan dunia, yaitu jagatvirtual.

Kita memang telah sampai pada fase dimana segala aktivitas dan gerak kehidupan dapat diakses dan dilakukan dengan mudah melalui sarana virtual, yang maya dan sungguh membutakan bagi sebagian generasi di masyarakat kita. Memang benar, sudah seharusnya kita bisa memulai segalanya, beralih dengan mudah ketika sebuah pandemi semacam ini terjadi secara mendadak. Tetapi, tidak bisa dipungkiri, bahwa masyarakat kita belum sepenuhnya mafhum dengan dunia baru yang maya itu. Kita tak boleh menutup mata, bahwa sebagian besar masyarakat kita masih mengalami ketertinggalan teknologi, meskipun sebagiannya lagi telah lari jauh, berselancar hingga menyesaki jagatvirtual.

Sejak ditetapkannya kondisi darurat di Indonesia, segala aktivitas dialihkan begitu saja melalui jagat virtual, tanpa ada kata permisi, tanpa melihat sana sini. Dari mulai dunia pekerjaan, dunia pendidikan hingga dunia bisnis dan ekonomi. Barangkali, dari dunia bisnis, masyarakat kita sudah mafhum menggunakan kemudahan belanja online melalui situs-situs ternama seperti Bukalapak, Shopee, Tokopedia dan lain sebagainya, tetapi perlu kita telusuri lebih dalam lagi, bahwa sebagian besar masyarakat di jagat bisnis online ini didominasi dan hampir seluruhnya adalah anak muda yang biasa kita kenal dengan generasimilenial.

Tetapi, dari segi pendidikan dan pekerjaan, masyarakat kita terlihat masih gugup dalam menjalankan aktivitas yang berhubungan dengan jagat virtual. Kalau kita lebih jauh melihat, hal ini disebabkan oleh sebagian besar tenaga pendidik yang berusia di

atas 45 tahun dan cenderung hanya mampu menggunakan aplikasi WhatsApp dan berselancar di jagat Google. Kita tak boleh menampik, bahwa kenyataan ini menjadikan beberapa aktivitas terkendala dengan begitu serius sebab sumber daya manusia yang kurang memadai. Bukan berarti saya menggenaralisir semua tenaga pendidik yang berusia di atas 45 tahun tidak bisa menjalankan aktivitas virtual, tetapi pada kenyataannya, kedua orang tua saya yang merupakan seorang tenaga pendidik mengalami betul kesulitan akan hal ini. Kehadiran TVRI yang menayangkan siaran pendidikan merupakan angin segar bagi tenaga pendidik, pelajar, dan orang tua yang menjaga anaknya belajar di rumah. Setidaknya bisa membantu dunia pendidikan meskipun juga masih terdapat masyarakat yang tidak memiliki televisi di rumahnya.

Belum lagi di dunia pekerjaan, yang tentu kita amini bersama bahwa tidak semua jenis pekerjaan dapat dilakukan melalui jagat virtual, paling hanya aktivitas- aktivitas rapat dan tatap muka yang bisa dilakukan melalui kemampuan video conference. Banyak sekali sektor pekerjaan yang mengharuskan pertemuan atau dilakukan secara langsung agar bisa berjalan secara logis dan masuk akal. Meski demikian, tulisan ini bukan bermaksud memberikan dampak pesimis bagi para pembaca sekalian untuk melewati kesulitan ini dengan aktivitas virtual, tetapi lebih kepada melihat secara realistis, bagaimana kondisi yang terjadi dalam masyarakat kita menyikapi dan menghadapi pandemi Covid-19ini.

Segi lain yang sangat terdampak Covid-19 adalah organisasi dan kegiatan sosial lainnya, dimana daftar panjang dalam program kerja (proker) sebelum pandemik terpaksa dialihkan secara virtual, ditunda atau bahkan dibatalkan. Ada juga sebagian organisasi yang mengubah prokernya menjadi aktivitas Live Instagram, Webinar, Diskusi Daring dan lain sebagainya. Pada akhirnya, seluruh komponan dan lini kehidupan di masyarakat kita harus memenuhi ruang virtual dengan menciptakan berbagai kegiatan, bahkan ada yang cenderung dipaksakan.

Dampaknya adalah ruang-ruang penciptaan itu kini bisa diakses dengan mudah dan bisa menjangkau masyarakat lebih luas lagi bahkan dengan biaya yang cenderung mudah. Beberapa hari lalu, saya terlibat dalam sebuah parade baca puisi secara virtual

yang disiarkan langsung melalui sebuah akun Instagram. Tentu, pelaksanaan parade baca puisi ini hanyalah membutuhkan sepeser rupiah untuk pembelian kuota internet dan bisa menjangkau lebih banyak penonton. Tidak seperti Parade Puisi pada umunya, yang digelar di sebuah tempat dan mendatangkan berbagai penyair di penjuru negeri, tentu, akan merogoh banyakrupiah.

Itu merupakan beberapa realitas yang terjadi dalam masyarakat kita, yang berusaha menciptakan ruang aktivitas secara virtual. Yang pasti, saya berharap, bahwa segala yang diciptakan dalam ruang virtual bukan semata-mata untuk menutupi gengsi, atau sekadar hanya sebagai sarana pencitraan bahwa organisasinya mampu menyesuaikan diri dengan keadaan. Sebab, jika saya lihat, saat ini ruang virtual telah sesak dengan segala aktivitas yang menjemukan, yang justru akan membawa masyarakat kita candu untuk terus mengikuti segala aktivitas yang ditawarkan. Penyedia ruang aktivitas dan masyarakat harus mampu memilah dan mempertimbangkan dengan matang esensi dan maksud dari penciptaan aktivitas tersebut, supaya kita tidak melihat ruang virtual yang sesak dengan segala aktivitas yang sebenarnya tidak perludilakukan.

Kendal, 27 Mei 2020