Menguatnya Reproduksi Pengetahuan "oral" Akibat Pandemi

Menguatnya Reproduksi Pengetahuan
“oral” Akibat Pandemi

Oleh Safri Rahmadiyanto
(Pemenang juara 1 dalam ajang Lomba Kepenulisan Imkey tahun 2020
dengan tema "Berperilaku Cerdas di Tengah Pandemi")

Alfred Russel Wallace seorang antroplog, ahli biologi, dan juga penjelajah. Dalam salah satu catatanya dia terheran, mengetahui pengetahuan orang di Nusantara. Wallace yang terkenal karena “garis wallace” yaitu garis yang memisahkan perbedaan sebaran flora dan fauna di Indonesia. Di setiap penjelajahannya ke berbagai tempat, Wallace selalu didampingi oleh warga lokal untuk menjelaskan nama, dan jenis  flora dan fauna yang ada. Keheranan Wallace akibat dari adanya pengetahuan terkait beragam nama suatu tanaman, serta fungsi ataupun manfaat dari tanaman di suatu tempat secara mendetail. Hampir semua flora yang iya tanya sudah memiliki nama. Tidak jarang mereka juga menjelaskan istilah atau nama yang berbeda pada satu jenis flora atau tanaman kepada Wallace. Sangat aneh baginya, satu jenis tanaman memiliki nama-nama yang beragam. Padahal mereka tidak memiliki suatu sumber catatan dan juga tidak menempuh pendidikan.
Berbeda dengan orang dari negaranya berasal, dimana hanya mengenal nama tanaman dan kegunaannya, sesuai yang diajarkan di sekolahnya. Hal inilah yang menunjukan budaya pendidikan yang berbeda antara barat dengan kita. Dimana mereka mengenal budaya literasi (membaca dan menulis), sementara kita budaya bercerita “oral”. Sehingga pengetahuan yang dimiliki setiap orang kita kebanyakan berasal dari cerita orang tua ke anak dan juga mulut ke mulut. 
Menyoal pandemi covid 19, ada perubahan cara belajar dalam institusi pendidikan di Indonesia. Siswa-siswa tidak lagi belajar di ruang kelas sekolah. Mereka diharuskan melakukan melalui daring atau via internet. Guru sekolah memberikan tugas melalui pesan-pesan yang kemudian harus dikerjakan para murid di sekolah. Beberapa orang mungkin menganggap kurang bagus, karena adanya keterbatas akses internet, informasi, dll. Namun jika dilihat dari kaca mata Paulo Freire, hal ini terlihat bagus. Karena guru bukan lagi subyek tunggal, yang memberikan pendidikan. Sementara siswa bukan lagi subyek yang pasif. 
Proses belajar dan mengajar selama pandemi ini membutuhkan peran serta orang tua. Anak bukan lagi menjadi subyek yang pasif, karena ketika bersama dengan orang tuanya mereka menjadi lebih berani untuk bertanya dan mengeluarkan pendapatnya. Cara belajar one on one menjadian anak lebih banyak kesempatan untuk bertanya apa yang ingin mereka ketahui. Situasi ini membangkitkan lagi tradisi “oral” mulai berjalan di tanah air, karena sebagian besar masyarakat kita tidak memiliki papan tulis di rumahnya. Sehingga mengharuskan orang tua untuk menjelaskannya. Siswa tidak lagi mengikuti tulisan guru dipapan tulis. Siswa hanya menulis jawaban di lembar-lembar kerja.
Tidak seperti guru di sekolah yang menerangkan secara sistematis.  Kebanyakan orang tua siswa yang tidak memiliki latar belakang “pendidikan pengajar”, memungkinkan menerangkan atau memberikan penjelasan secara abstraksi. Yang kemudian pengalaman serta wawasan dari orang tua menjadi bumbu-bumbu sedap ketika menerangkan. Hal ini dapat menjadi pendobrak untuk pendidikan. Dimana menurut Paulo Freire pendidikan sebagai reproduksi ideologi kelas dominan untuk mempertahanan keuasaan. Ilmu yang abstrak itulah menjadi tambahan pengetahuan bagi anak, sehingga pemikiran siswa tidak terskat oleh materi pelajaran. Siswa juga tidak lagi tertindas oleh jam belajar. Pendidikan selama pandemi juga membuka ruang demokrasi bagi orang tua dan anak untuk menentukan kapan waktu belajar. 
Bukan hanya Paulo Freire, cara belajar selama pandemi seolah menghadirkan kembali pemikiran Ki Hadjar Dewatara. Sistem belajar “asih, asah, dan asuh” dapat terlihat dalam prosesnya. karena  secara tidak langsung siswa memiliki banyak waktu bersama orang tuanya. Siswa dapat membantu beberapa pekerjaan orang tua yang menjadikan banyak pesan moral yang dapat diajarkan kepadanya. Pembalajaran bukan hanya sebatas materi pelajaran dari buku sekolah. Melaikan juga hal-hal spiritual, etika, moral dan kemampuan lain yang dapat diajarkan oleh orang tua adalah bagian dari bekal pendidikan untuk kehidupannya dimasa yang akan datang. Tentunya hal diatas merupakan pembelajaran yang banyak menggunakan cara “oral” dibandingkan “literasi”.