Proses Pembelajaran Daring Ditengah Pandemi

Proses Pembelajaran Daring
Ditengah Pandemi 

Oleh: Osy Siswi Utami
(Peserta lomba kepenulisan Imkey tahun 2020 dengan tema Berperilaku Cerdas di Tengah Pandemi)

World Health Organization (WHO) akhirnya menetapkan serta mengumumkan bahwa virus corona atau covid-19 sebagai pandemi. Sebagai akibat ditetapkannya virus corona sebagai pandemi mengakibatkan banyak sektor yang ikut terdampak, termasuk dalam sektor pendidikan. Telah diakui oleh UNESCO pada kamis (5/3), bahwa pandemi virus corona telah berdampak pada sektor pendidikan. Hampir 300 juta siswa terganggu kegiatan sekolahnya di seluruh dunia dan terancam hak hak pendidikan mereka di masa depan. Karena penyebarannya yang semakin meluas di seluruh dunia tak terkecuali di Indonesia, sektor pendidikan di Indonesia pun sangat terdampak akibat peraturan pemerintah pusat yang menghimbau untuk mengurangi aktivitas diluar rumah. Seluruh sekolah taman kanak kanak hingga perguruan tinggi meliburkan sekolah bertatap muka dan mengganti proses pembelajaran secara daring. Keputusan daerah yang melakukan proses pembelajaran secara daring tersebut pun didukung oleh Menteri pendidikan dan kebudayaan Nadiem Makarim karena situasi dan kondisi yang sangat mengkhawatirkan. “ Dampak penyebaran covid-19 akan berbeda dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Kami mendukung kebijakan meliburkan sekolah,” tutur Menteri Pendidikan Nadiem pada Minggu (15/3).

Hal ini menjadikan seluruh kegiatan pendidikan dilakukan secara daring (dalam jaringan). Proses pembelajaran daring memiliki kesulitan dalam pelaksanaan teknis bagi pengajar maupun murid. Dalam proses pembelajaran daring yang dilakukan full seperti home scholling mengharuskan seorang murid mengerti dan memahami materi yang disampaikan seorang guru melalui akses media sosial. Semua guru melakukan pemantauan aktivitas belajar daring melalui whatsaap grup ataupun melalui google clasroom atau media tugas dan diskusi yang dibuat khusus oleh suatu instansi pendidikan. Proses pembelajaran daring bagi siswa sekolah dasar sangat mengalami kesulitan, karena aktivitas akademik yang dilakukan di rumah belum dapat dilaksanakan

secara mandiri oleh seorang murid. Sehingga perlu dilakukan bersama orangtua ataupun saudaranya, hal tersebut mengakibatkan orangtua harus meluangkan waktunya, namun tidak semua orang tua memiliki waktu yang luang dan tidak semua orang tua  memahami materi sekolah yang ada. Dampaknya seorang murid tidak bisa memahami dengan maksimal ataupun bahkan tidak melakukan proses pembelajaran daring sama sekali. Kemudian Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menciptakan inovasi sebagai solusi dari kesulitan tersebut yaitu adanya program televisi yang dibuat khusus sebagai materi untuk proses pembelajaran daring setiap harinya yang mencakup bagi siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah keatas. Namun hal ini juga belum sepenuhnya mengatasi masalah kesulitan tersebut. Karena pemahaman lanjut mengenai materi yang disampaikan ditelevisi harus dilakukan oleh orang tua  juga. Proses pembelajaran daring bagi mahasiswa perguruan tinggi juga memiliki kesulitan. Setiap mahasiswa diwajibkan memiliki paket kuota internet setiap hari, karena pembelajaran daring dan tugasnya bisa sewaktu waktu diberikan oleh dosen  yang terkadang tidak mengenal waktu. Banyaknya tugas yang diberikan oleh dosen membuat banyak mahasiswa mengeluh sehingga berdampak pada kesehatan fisik ataupun mental mahasiswa. Mahasiswa juga diharuskan memiliki sinyal handphone yang baik untuk mengetahui informasi yang diberikan oleh dosen. Kendalanya adalah tidak semua wilayah di Indonesia memiliki sinyal internet yang baik dan mudah dijangkau. Begitu sulitnya mencari sinyal internet di beberapa wilayah di Indonesia mengakibatkan seorang mahasiswa meninggal dunia. Rudi Salam Sharny seorang mahasiswa Unhas yang bertempat tinggal di Kabupaten Sinjai harus memanjat menara masjid di kampung halamannya untuk mencari internet guna mengerjakan tugas kuliahnya, namun hal ini malah menjadi malapetaka. Rudi terjatuh dari menara masjid dan nyawanya tidak dapat tertolong. Kejadian ini terjadi pada hari Jumat (8/5/2020) dan dibenarkan oleh pihak kampus dan keluarga Alm. Rudi. Hal ini menjadi pukulan sendiri bagi pemerintah dalam bidang pendidikan maupun kesejahteraan masyarakat yang belum merata di seluruh pelosok nusantara.
Kesulitan lain yang dihadapi mahasiswa khususnya mahasiswa tingkat akhir yang akan melaksanakan penelitian harus mengurungkan niatnya untuk mengundur kegiatan penelitiannya, atau kegiatan pengajuan revisi atas skripsi yang sulit bahkan

prosesi sidang dan wisuda yang dilakukan melalui video conference dengan pihak kampus menjadi hal yang sangat berbeda dari sebelumnya.
Kesulitan inipun tidak hanya dialami oleh murid ataupun mahasiswa saja, melainkan kesulitan karena proses pembelajaran secara daring juga dialami oleh pengajar. Guru ataupun dosen pun banyak yang mengalami kesulitan karena seorang guru ataupun dosen harus memberikan inovasi baru dalam pembelajaran secara daring untuk membuat muridnya tertarik dan tidak merasa bosan. Sebagai pengajar, guru dan dosen harus memberikan edukasi sebagai salah satu upaya menghentikan penyebaran virus corona tersebut. Bukan hanya itu saja, guru dan dosen pun perlu mempelajari teknologi yang ada, namun kendalanya masih banyak pengajar yang belum mengetahui teknologi masa kini.

Sehingga proses pembelajaran daring akibat dampak menyebarnya virus corona perlu dikaji ulang dalam hal belajar dan mengajar, ini juga dapat dijadikan sebagai refleksi dalam sektor pendidikan di Indonesia.