Kehidupan Manusia Pasca Pandemi Covid-19

Kehidupan Manusia 
Pasca Pandemi Covid-19

Oleh: Arin Maulida Aulana
(Pemenang juara 5 dalam ajang Lomba Kepenulisan Imkey tahun 2020 dengan tema Berperilaku Cerdas di Tengah Pandemi)

Membicarakan wabah, jelas tak pernah berjarak dari membicarakan kekacauan. Covid-19, sebagaimana wabah-wabah lainnya yang pernah terjadi atau bahkan hanya sekadar prediksi yang menjadi catatan para ilmuwan yang meneliti perihal macam-macam wabah penyakit, selalu memberikan dampak yang signifikan dalam segala bidang. Penyebaran virus ini jelas tidak main-main, karena sudah menguasai hampir semua negara di seluruh dunia. Bahkan Australia yang termasuk Negara dengan sanitasi terbaik di seluruh dunia pun kewalahan menanggulangi kasus yang terus melonjak. Lantas bagaimana dengan Indonesia?

Tidak bermaksud menularkan pesimisme dalam menghadapi pandemi ini, kita harus membuka diri terhadap informasi-informasi terkini untuk meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapinya. Memiliki sikap ignorance pada saat-saat seperti ini justru adalah kesalahan. Karena jelas akan melahirkan tindakan-tindakan yang merujuk pada pengabaian, sehingga kurang hati-hati dan bahkan ceroboh. Tetapi juga bukan berarti harus sangat berlebihan karena justru akan berdampak pada kesehatan pikiran, sehingga sangat mungkin menurunkan sistem imunitas tubuh, atau bahkan menyebabkan psikosomatik.

Tetapi, meskipun wabah tersebut telah nyata berada di depan mata, dan pemerintah juga sudah menghimbau untuk memberlakukan aturan social distancing, yang kemudian berkembang menjadi physical distancing yang pada akhirnya berdampak pada pembatasan perkumpulan jenis apa pun; termasuk jamaah, ngopi, sampai pesta pernikahan, nyatanya masih banyak orang-orang yang tidak menjalankan standar prosedur untuk memutus mata rantai penyebaran covid-19. Hal ini tentu saja disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya  faktor ekonomi. 

Indonesia bukanlah negara maju yang mampu untuk membiayai seluruh kebutuhan penduduk yang 267,7 juta jiwa itu. Demikian, meskipun pemerintah telah menghimbau agar seluruh warga tetap menjalankan segala aktivitas #dirumahaja pada kenyataannya tidak semua pekerjaan bisa dilakukan di dalam rumah. 

Bagi para pekerja harian, berada di dalam rumah adalah neraka. Bayang-bayang kelaparan karena tak memperoleh penghasilan ketika tidak bekerja di luar rumah telah menjelma hantu yang tidak bisa dihindari keberadaannya. Sehingga hal itu membuat para pekerja harian itu terpaksa abai terhadap aturan yang mengharuskan untuk tetap berada di rumah. Bukannya mereka tidak takut tertular covid-19, akan tetapi kebutuhan mengalahkan ketakutan itu karena merasa lebih memiliki tanggung jawab terhadap keberlangsungan hidup keluarganya, karena kebutuhan tidak mengenal hari libur.

Lucunya, keadaan yang semakin lama semakin mempersempit banyak hal ini justru dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggungjawab yang telah menggadaikan kemanusiaannya demi kepentingan diri sendiri. Segala kebutuhan melonjak; masker, hand sanitizer, APD, serta hal-hal lain yang juga ikut terdampak karena memang persediaannya semakin menipis; berbanding terbalik dengan kebutuhan yang ironisnya menyebabkan paramedis kekurangan APD, padahal mereka tetap harus berjuang di garda paling depan dalam melawan wabah covid-19 ini. 

Pasca Apokaliptik
Pada akhirnya kecemasan demi kecemasan melahirkan kebiasaan baru yang jauh dari kebiasaan yang dilakukan sebelum wabah, seperti yang diungkapkan seorang novelis India, Arundhati Roy bahwa pandemi adalah portal, gerbang yang memisahkan masa lalu dengan masa depan. Misalnya saja, seseorang akan terus menerus mencuci tangan berkali-kali dan berkali-kali lagi setiap selesai menyentuh apa pun. Hal ini cenderung menimbulkan paranoia berlebihan, namun untuk saat ini dianggap normal karena memang keadaan yang mengharuskan demikian. Seorang kurir mungkin lebih memilih meletakkan paket di depan rumah penerima, atau meletakkan begitu saja tanpa berniat menyentuhnya, sedangkan penerima paket memilih tidak langsung menyentuh barang yang diterimanya sebelum menyemprot berkali-kali dengan disinfektan, lalu menjemurnya di bawah matahari sebelum benar-benar memutuskan untuk mengambil barang tersebut.

Suatu hari seorang perawat yang bekerja di rumah sakit Kariadi Semarang meninggal dunia karena tertular pasien positif covid-19 yang dirawatnya, yang terjadi kemudian masyarakat menolak pemakaman perawat tersebut karena dikhawatirkan akan menularkan virus yang sama ke lingkungan sekitar. Ironis. Dan tak seharusnya terjadi. Padahal, jika boleh memilih barangkali seluruh paramedis akan menghindari merawat pasien positif covid-19 dan memilih berkumpul bersama keluarga di rumah. Tetapi bukankah itu tidak terjadi?. Bagaimana jika yang terjadi selanjutnya semua paramedis tidak bersedia merawat pasien covid-19 hanya karena mereka dikucilkan oleh lingkungan yang berusaha mereka selamatkan? Tidakkah seharusnya kita saling mendukung dalam kondisi yang serba tak pasti ini? Bukankah sebatang lidi baru akan terlihat kekuatannya setelah bergabung dan menjadikannya segenggam lidi? Meskipun tentu saja, mengasah kepercayaan di tengah kekacauan jelas tak semudah mencuci tangan menggunakan sabun berkali-kali dan berkali-kali lagi.

Menyikapi segala kekacauan yang terjadi dan memang hampir tidak terkendali ini, menilik pada skenario pemerintah Indonesia sendiri yang  mulai melonggarkan PSBB dengan dimulainya pembukaan mall-mall, kemudian bandarameskipun lucunya pemerintah tetap saja tidak menganjurkan perantau untuk mudikagaknya memang telah bersiap dengan adaptasi pada era new normal ini. Karena seperti yang diungkapkan Laurie Garret, jurnalis kesehatan penerima anugerah Pultizer, Dunia tak akan pernah lagi sama setelah pandemi virus corona berlalu, bahkan bertahun-tahun setelahnya.