Tingkatan Puasa Seorang Muslim
Bulan Ramadhan merupakan satu dari beberapa bulan yang diagungkan oleh AllahSWT, di bulan Ramadhan juga, seorang muslim diwajibkan melaksanakan ibadah puasa. Ibadah puasa disebut-sebut sebagai ibadah yang yang istimewa, karena ibadah ini merupakan hubungan langsung antara Tuhan dan Manusia.
Di dalam sebuah hadis:
للصائم فرحتان فرحة عند إفطاره وفرحة عند لقاء ربه
disebutkan bahwa ada dua keutamaan besar bagi seorang berpuasa yaitu dia akan mendapatkan dua kebahagiaan, kebahagiaan pertama adalah ketika ia berbuka, sedangkan kebahagiaan kedua ia akan dipertemukan dengan Tuhannya.
Dalam kitab Durratu Al-Nāşihīn diceritakan bahwa suatu ketika ada seorang Majusi (Islam mengenal Majusi sebagai agama dengan akidah dualisme), Majusi tersebut melihat anaknya makan di tempat umum, lalu ia memukul dan memarahinya seraya mengatakan, “tidakkah kamu menjaga kehormatan seorang muslim di bulan Ramadhan?” dan ketika seorang Majusi tersebut meninggal, ada seorang ulama yang bermimpi bahwa orang Majusi tersebut telah tinggal di Surga. Kemudian ulama ini bertanya “bukankah kamu orang Majusi?” ia menjawab “benar, akan tetapi saya mendengar isyarat dari malaikat sebelum saya meninggal, bahwa saya telah digolongkan sebagai orang yang beriman karena menghargai dan menghormati bulan suci umat muslim yaitu Ramadhan”.
Dari cerita di atas secara nalar dapat dilihat betapa intens-nya Allah dalam memuliakan bulan Ramadhan, jika orang Majusi yang hanya memuliakan bulan Ramadhan saja dimasukkan ke dalam surga, apalagi umat Muslim yang berpuasa dan beribadah di bulan Ramadhan? Dalam Al-Qur’an juga dengan lantang disebutkan:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (Q.S. Al-Baqarah [2]: 183).
Ada yang menarik dari ayat tersebut, pertama adalah kenapa Al-Qur’an menggunakan diksi کُتِبَ yang mana sifatnya adalah kata pasif. Dari sini kita dapat melihat bahwa perintah puasa dari Allah merupakan bentuk perintah yang pasif, yang artinya manusia sendirilah yang harus menyadarinya tentang kewajiban perintah ini.
Selain itu juga kalimat perintah yang bersifat pasif merupakan sebuah upaya konfirmasi. Kenapa demikian? Mari kita analogikan, tanpa adanya perintah puasa seorang hendak melakukan operasi organ tubuhnya Ia diperintahkan oleh sang dokter untuk berpuasa (baca: tidak makan dan minum), kemudian orang yang terkena penyakit Gula, ia disarankan untuk berpuasa (baca:tidak memakan hal-hal yang menyebabkan penyakit Gula).
Dari sini kita dapat melihat, bahwa puasa sebetulnya adalah demi kepentingan manusia sendiri, manusia memerlukan puasa untuk keseimbangan tubuhnya dan kesehatannya. Di Sinilah saya kira keutamaan puasa yang paling konkret bagi umat manusia.
Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, setelah kita membahas bagaimana makna seutuhnya dibalik perintah puasa apakah puasa hanya masalah menahan minum dan lapar? Nah dalam tulisan ini akan saya bahas bagaimana tingkatan berpuasa seorang Muslim.
Dalam kitab Durratu Al-Nāşihīn karangan ‘Utsman bin Ahman Al-Syakir, menyebutkan bahwa ada tiga tingkatan puasa seorang Muslim. Pertama adalah şaumu al-‘awāmm (puasa orang awam), tingkatan yang pertama ini adalah umat muslim yang berpuasa hanya menahan lapar dan syahwatnya untuk tidak berhubungan badan.
Kedua adalah şaumu al-khawās (puasa golongan khusus) adalah puasanya orang-orang yang sālih, tingkatan ini adalah umat muslim yang menjaga dirinya dari perbuatan yang diharamkan serta dimakruhkan oleh Allah SWT. dalam hal ini ada lima hal yang selalu dilakukan oleh mereka yang masuk pada golongan kedua. Kelima hal tersebut adalah: menjaga penglihatan dari hal-hal yang diharamkan secara syari’at, menjaga lisan dari perbuatan dosa (seperti mencela, gosip, berbohong, dan berani namun tidak menepati), menjaga pendengaran dari hal-hal yang dimakruhkan oleh Allah, menghindari makan-makanan yang syubhat (keadaan yang samar tentang kehalalan atau keharaman dari sesuatu) dan makruh ketika berbuka, dan yang terakhir adalah berbuka dengan makan secukupnya.
Ketiga adalah şaumu khawāşu al-Khawāş (puasa golongan sangat khusus) adalah mereka yang berpuasa menahan hati dari kecenderungan serta memikirkan urusan dunia, mereka adalah yang senantiasa memprioritaskan Allah dalam segala hal.
Dari pemaparan di atas, dapat diambil beberapa kesimpulan penting bahwa esensi berpuasa bagi seorang muslim adalah bukan hanya sekedar menahan lapar, dahaga dan syahwatnya. Melainkan ibadah puasa jika dilihat secara universal adalah kembalinya niat seorang hamba kepada Tuhannya. Bagaimana kemudian seorang muslim tidak sibuk dalam urusan dunianya.
wallāhu a’lam.
