Selembar Pesan dari Bilik Sangkar
Seperti anak merpati yang tak lagi dianggap anak karna terlampau menua. Ia mulai bosan dengan sarang yang mengelilinginya, mengurungnya.
Walau beberapakali ia tak ikut andil dalam membenahi sarang tersebut, dalam diamnya ia tetap menatap, memperhatikan inchi demi inchi perbedaan yang mulai terasa yang membuatnya gerah ingin segera mengepakkan sayapnya.
Ia dalam kesuntukannya, mematuk selembaran daun kering yang dalam niatnya tertuliskan sebuah pesan singkat sebelum hengkang nun jauh lepas.
D Dalam batinnya terentuk, bak gumpalan es yang menghantam nalurinya. Pikirannya berputar berlawanan arah menuju kembali pada saat dimana sarang itu tiada, lambat laun ada dan berada hingga sampai detik ini menjadi sarangnya, salah satu tempat berteduhnya.
Naluri liarnya pun mulai merangsang. Bagaimana keberadaan sarang tersebut dapat mengilhami segenap penghuninya.
Hingga di saat waktu telah mengharuskan mereka kembali terbang, lepas, tak ada kerisauan dan kebingungan hilang arah. Karna, pada saat berada dalam sarang, tak hanya kekeluargaan saja yang terajut di setiap ikatan jerami dan rerumputannya, skill, leader dan prinsip kedaerahannya semakin bakoh matang dan teruji.
Maka di saat penerbangan itu tiba, mereka pun tak gentar takut oleh liarnya alam bebas luas yang dalam hitungan detik sekalipun dapat membinasakannya.
Oh, sang merpati pun kembali tersadarkan oleh kicauan sang kawanan yang mengajak beranjak dari kemageran, dengan dalih pindah tempat rebahan, menuju pusat perjamuan dan peristirahatan.
Sang merpati menyadari pikiran liarnya tak kan pernah menjadi obsesi nyata. Karena, memang demikianlah adanya. Kekerabatan yang sederhana ini sangat lah tak mudah diusikkan dengan beragam doktrin doktrin militan yang dianggap kolot dan menjenuhkan.
Sedang, sedari awal ia sadar, sangkar tersebut hanya salah satu tempat persinggahan, untuk melepas lelah dan kejenuhan, bukan tempat menambah beban kesuntukan.
Toh akhirnya, sebelum ia gulung selembaran daun kering itu, sekilas ia baca kembali pesan singkatnya; "tetap bertahan dengan keadaan atau mencipta keadaan baru yang didambakan. Beribu maaf dan terimakasih".
Jogja, menanti akhir Februari 2020, semoga bukan perpisahan.
