Kartini : Wanita yang Melampaui Zamannya
Kartini : Wanita yang Melampaui Zamannya
Apa hal pertama yang terbesit dalam diri anda ketika mendengar nama Kartini?
Apakah lagu Ibu kita Kartini yang selalu dinyanyikan di masa kecil? Atau kah sosok wanita pemakai konde yang harum namanya?
Ataukah lebih mengingatkan gaun kebaya dengan sanggul konde di kepala yang selalu meributi kalian, para wanita, ketika hari lahirnya dirayakan?
Jika kalian masih hanya mengenalnya dari sebatas rutinitas adat tahunan semata, tanpa mengetahui sosoknya yang sesungguhnya, kalian harus belajar banyak hal lagi tentangnya, terlebih jika kalian masih mempertanyakan mengapa beliau yang menjadi Ibu Bangsa mewakili pergerakan kaum wanita lainnya.
Sebelum itu, sudah tahukah kalian, jika sosok anggun yang sering kalian panggil sebagai seorang ibu dalam nyanyiannya itu ternyata masih sangatlah muda?
Sosok semulia beliau meninggal di usia 25 tahun, usia yang kadang kita masih diributkan urusan karir dan percintaan yang tidak jelas juntrungannya. Tapi beliau, walaupun dengan usia semuda itu, walaupun bersekolah sampai di usia 12 tahun saja (saiki lulusan SD rekk), walaupun harus mendapat tuntutan paksa menikah di usia muda, walaupun ketika itu kedudukan wanita hanya dinilai dari segi fisiknya saja, yang hanya boleh menikah dan mengurusi urusan rumah tangganya saja, Beliau, Kartini, bisa melampaui semua batasan itu. Beliaulah sosok wanita pertama yang sangat memiliki pengaruh besar dalam proses perjuangan menaikkan harkat dan martabat wanita, khususnya wanita Jawa.
Beliau yang merasakan keterbatasan pendidikannya, dengan berani mencurahkan segala kegelisahan dan ketidaksesuaian dirinya terhadap semua sistem yang ada dengan menulis, menulis dan menulis. Tulisan-tulisannya beliau kirim ke manca negara. Di setiap goresan kata yang terangkai dalam suratnya, menandakan tingginya batas pemikirannya dan betapa kritisnya dirinya.
Tak terbayangkan bagaimana kehidupannya ketika itu, dengan usia yang sebatas itu, sepertinya, separuh hidupnya yang terbilang belia (jika melihat situasi kala itu, karena jika dihitung beliau hanya memiliki sekitar 12 tahun saja dalam melakukan perjuangannya itu), sepertinya habis untuk menulis dan menulis.
Dalam hidupnya yang selalu dipenuhi ketidaksesuaian, pertentangan dan penderitaan yang selalu memunculkan pertanyaan demi pertanyaan yang tak terjawabkan, beliau curahkan semua itu dalam surat-suratnya. Sepertinya, hanya tulisan dalam bentuk suratlah yang dapat memberikan kebebasan kepadanya untuk menulis sesuka hati dan pikirannya kala itu.
Dalam hidupnya, beliau mengalami hidup di 3 dunia sekaligus yang beliau membencinya semua. Dunia Patriarki, Feodalisme, dan Kolonialisme.
Patriarki, dunia yang sangat mengunggulkan derajat lelaki dan menafikan begitu saja harkat dan martabat wanita sebagai seorang manusia seutuhnya. Dimana saat itu, wanita hanya diperbolehkan pada satu perkejaan saja, yaitu kawin. Perkawinan, yang sebenarnya menurut Kartini, merupakan satu panggilan suci nan mulia, saat itu hanya menjadi semacam jabatan saja, dimana wanita yang sudah menikah, dibebani dengan berbagai aturan, tugas dan kedudukannya seperti yang telah dijelaskan dalam serat Ronggowarsito. Bahwa perempuan yang ideal (kala itu) ialah ia yang setia pada suami, mau dimadu, mencintai suaminya, berbakti kepada mertua dan hanya diperbolehkan membaca buku yang berisikan nasehat-nasehat.
(Entah bagaimana perempuan saat ini dalam memandang entitas sakral perkawinan, apakah masih tetap menjadi hal yang sakral atau sebaliknya, apakah hanya melihat survei angka perkawinan dan gugatan perceraian bisa mewakilinya)
Perempuan saat itu, pekerjaannya hanya seputar suami, anak, dan dapur saja, tidak ada peluang untuknya mendapatkan pendidikan di bangku sekolah, lebih-lebih bekerja dan menjabat suatu profesi tertentu. Padahal di Jaman Jawa Kuno, masih sangat terdengar hingga sekarang, bagaimana sosok wanita pernah menjabat menjadi Ratu di sebuah Kerajaan bernama Holing (Kalingga/Keling). Ratu Sima, Ratu Adil yang namanya melegenda di punjuru dunia. Ratu yang membawa kemakmuran bagi rakyatnya dan tidak pernah ada pelanggaran dan penyelewengan yang terjadi di masanya, kecuali yang dilakukan oleh putra mahkotanya sendiri dan itupun ia tetap memberikannya sanksi sebagaimana mestinya.
Maka tidak heran berawal dari sini, Kartini dengan berbagai gebrakannya akhirnya mulai bisa mendobrak tatanan tersebut, dengan keberhasilannya mendirikan sekolah wanita.
Feodalisme, dunia yang menjunjung tinggi nama, gelar, jabatan, dan keturunan demi mendapatkan sanjungan dan penghormatan. Maka tak heran bila oleh Pramoedya, wanita ini lebih senang dipanggil dengan Kartini saja, tanpa ada gelar bangsawan yang melekat padanya. Karna baginya gelar bangsawan hanya pantas diberikan kepada 2 orang saja, yaitu orang yang berbudi luhur dan orang yang berilmu tinggi. Bukan mereka yang hanya bisa membanggakan gelar, jabatannya apa dan keturunannya siapa, atau malah pada berlomba-lomba untuk mendapatkannya, bagaimanapun caranya. Oh aku semakin dibuat heran oleh pemikirannya.
(Menurut kalian, feodalisme yang sangat dibenci oleh Kartini apakah masih kalian temukan di kehidupan kalian? dalam diri kalian?)
Kolonialisme, dunia yang selalu menghantui dirinya di setiap saat, dimana dia tidak bisa berkutik apa-apa ketika mendengar keadaan rakyat yang sangat merasakan kesengsaraan. Kerja Rodi yang meludeskan harta, jiwa dan raga, sehingga tidak ada waktu sedikit pun kecuali hanya untuk bekerja, bekerja dan bekerja demi menyambung hidup. Hidupnya hanya untuk hidup, tak ada waktu untuk memikirkan hal lain lebih-lebih soal pendidikan. Maka jangan sampai strata ekonomi berada pas di garis kemiskinan. Lebih-lebih di era saat ini. Minimal strata perekonomian dapat membuat rakyat berada pada tingkat menengah keatas, agar rakyat bisa merasakan dan melakukan hal-hal lain selain urusan mencari makan. Hidup kan tidak sekedar hanya sibuk dengan urusan uang dan perut doang?
Melihat beberapa point ini saja, dapat dirasakan betapa pemikiran-pemikiran beliau melalui surat-suratnya itu, pantas disebut telah melampaui zamannya. Ini hanya terkait strata saja, belum tentang pendapat beliau terkait keberagaman agama dan budaya itu sendiri. Belum juga tentang pendapat dan solusi visioner beliau tentang pendidikan dan bagaimana pula perjuangan beliau dalam mendirikan sekolah wanita. Sekali lagi, di usia beliau yang sangat singkat itu, sepertinya tidak ada waktu sedikitpun baginya untuk iseng berleha-leha tidak jelas, hidupnya diliputi oleh keseriusan dalam memikirkan nasib rakyatnya, terutama kaum wanita.
Maka, masih pantaskah jika ada yang masih mempertanyakan mengapa beliau yang menjadi Ibu Bangsa mewakili pergerakan kaum wanita lainnya?
Mengheningkan cipta sejenak untuk beliau,
Al Fatihah
